BERITA :
Powered by Blogger.

Latest Post

Showing posts with label Wirausaha. Show all posts
Showing posts with label Wirausaha. Show all posts

Pembesaran DOQ Bibit Puyuh Petelur

Written By restubfc on Sunday, September 22, 2013 | 12:53 AM

Puyuh

Yang pertama bahasan lebih pada beberapa macam teknik atau cara pembesaran DOQ bibit puyuh petelur. Untuk lanjutan ini akan mencoba mengetengahkan serba serbi salah satu aktivitas rangkaian beternak puyuh ini.

Hal mengenai pembesaran DOQ burung puyuh petelur ini sangatlah penting juga dibahas. Bagaimanapun, bagian ini akan berpengaruh terhadap kualitas produksi puyuh maupun umur produktivitas.

1. Sedikit pemahaman.
Masa pembesaran DOQ bibit puyuh petelur ini merupakan masa mempersiapkan, membentuk, dan merawat puyuh sejak umur bahkan 0 hari sampai rata-rata pada umuran 30 hari. Hingga nanti terbentuk puyuh yang siap telur, baik masak tubuh maupun masak kelamin. Pembentukan ovary / ovarium terdapat follikel tempat pembentukan kuning telur. sedang oviduct tempat perjalanan pembentukan sebutir telur lengkap.
Perawatan yang kurang baik pada tahapan ini mengakibatkan kurang sempurnanya juga pada masa dewasa, dimana dalam memproduksi telur juga menjadi tidak optimal.

2. Pakan.
Mengacu pada pengarahan dari kemitraan, untuk pakan puyuh pada masa stater ini menggunakan pakan stater khusus DOQ bibit puyuh petelur. Sejak dari umur 0 hari sampai sekitar umur 30 hari.
Biasanya dari 6 sak pakan stater untuk 1000 ekor DOQ, pada saat naik kandang (seringnya kalau yang saya alami, naik kandang pada umur 25 hari), pakan masih sisa hampir setengah sak (25 kg). Pakan stater tersebut ada yang memberikannya dicampur pakan teluran / layer, ada juga yang dihabiskan dulu pakan staternya, baru kemudian pindah ke pakan layer.
Mengenai pakan stater untuk DOQ bibit puyuh petelur ini ada pendapat dari Bp. Puyuh Jepang, bahwa intinya bisa diberi (atau malah lebih bagus) pakan stater ayam pedaging.

3. Yang penting diperhatikan pada masa pembesaran DOQ bibit puyuh petelur.
Dari selama ini membesarkan DOQ bibit puyuh petelur. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam perawatan dan pemeliharaan masa pembesaran ini, saya kira pakar-pakar puyuh mengamini juga, diantaranya:

a. Terkait dengan pemanas. Apabila DOQ bibit puyuh petelur ini mengumpul berdesak-desakan, atau bahkan saling menumpuk di pusat pemanas (terutama yang memakai lampu bohlam), berarti suhu ruangan dalam kandang pembesaran kurang panas. Solusinya, tambahkan lagi pemanas.
Beda lagi apabila DOQ bibit puyuh petelur ini hampir semua atau banyak yang merapat di dinding. Berarti terlalu panas. Solusinya, kurangi suhu pemanas. ( Ciri yang suhunya disenangi atau cukup pas alias normal ialah ketika DOQ bibit puyuh petelur cenderung menyebar. Pada kondisi ini lebih banyak aktivitas makan, minum, dan tidur )

b. Masa yang rawan pada tahap pembesaran ini sekitar 3 hari. Setelah itu lebih rileks dalam perawatan. Terutama yang berkaitan dengan pemanasan.

c. Untuk galon kecil tempat minum sebaiknya diberi batu-batu kerikil di wadah minumnya. Agar si puyuh kecil tidak tenggelam.

d. Dalam masa rawan 3 hari, ketika meletakkan galon kecil tempat minum usahakan rata. Terpaksanya agak miring, lubang keluarnya yang lebih rendah. Tujuannya agar air tidak membanjir yang bisa mengakibatkan banyak DOQ bibit puyuh petelur ini basah kuyup. Risiko kebanjiran ini bisa kematian massal dalam jumlah besar. Jika galon digantung, pada masa 1 atau 2 hari kadang beresiko DOQ bibit puyuh petelur ini suka nyungsep di bawah galon. Ada sela sedikit, suka dipakai sembunyi. Akibatnya ya basah kuyup, kalau tidak tertolong, ya kematian juga. Kan sayang ya.

e. Jika pakan stater untuk pertama pemberian digiling, usahakan tidak terlalu lembut menepung. Bisa-bisa kita sibuk mengelupas pakan yang menempel di mata DOQ bibit puyuh petelur. Perlu diperhatikan bahwa pada masa ini, mereka tidurnya sembarangan dengan mata menempel di pakan yang ditebar.

f. Untuk kandang pembesaran yang memakai lapisan kertas, teliti jangan ada lubang untuk sembunyi. Sering DOQ bibit puyuh petelur bisa masuk, tapi tidak bisa keluar.

g. Untuk yang memakai pemanas dengan lampu listrik, apabila terjadi pemadaman (oglangan), asal sebelumnya panasnya mencukupi, langsung kandang pembesaran ditutup rapat. Apalagi jika kandang pembesaran di ruangan tertutup. Lebih dari 4 jam pun dari yang pernah saya alami, masih aman. Ini untuk yang kurang dari 2 hari.

TERIMA KASIH

Teknik Pembenihan Ikan Nila Gift Secara Massal & Pembesaran Di Tambak

Written By restubfc on Saturday, September 21, 2013 | 9:56 AM


            Secara genetik ikan nila GIFT ( Genetic Improvement for Farmed Tilapia ) telah terbukti memiliki keunggulan pertumbuhan dan produktivitas yang lehih tinggi dibandingkan dengan jenis ikan nila lain.  Selain itu, ikan nila mempunyai sifat omnivora, sehingga dalam budidayanya akan sangat efisien, dalam biaya pakannya rendah.  Padahal Komponen biaya pakan dalam usaha budidaya mencapai 70% dari biaya produksi.  Sebagai perbandingan nilai efisiensi pakan atau konversi pakan ( Food Conversion Ratio ), ikan nila yang dibudidayakan di tambak atau karamba jaring apung adalah 0,5 - 1,0 ; sedang ikan mas sekitar 2,2 - 2,8.

            Pertumbuhan ikan nila jantan dan betina dalam satu populasi akan selalu jauh berbeda, nila jantan 40% lebih cepat dari pada nila betina.  Disamping itu, yang betina apabila sudah mencapai ukuran 200 g pertumbuhannya semakin lambat, sedangkan yang jantan tetap tumbuh dengan pesat.  Hal ini akan menjadi kendala dalam memproyeksikan produksi.  untuk mengantisipasi  kendala ini, saat ini sudah dilakukan proses jantanisasi atau membuat populasi ikan menjadi jantan semua ( Sex-reversal ) yaitu dengancara pemberian hormon 17 Alpa methyltestosteron selama perkembangan larva sampai umur 17 hari.

            Pembenihan ikan nila dapat dilakukan secara massal di perkolaman secara terkontrol ( pasangan ) dalam bak-bak beton.  Pemijahan secara massal ternyata lebih efisien, karena biaya yang dibutuhkan relatif lebih kecil dalam memproduksi larva untuk jumlah yang hampir sama.

            Pembesaran ikan nila dapat dilakukan di kolam, karamba jaring apung atau di tambak.  Budidaya nila secara monokultur di kolam rata-rata produksinya adalah 25.000 kg/ha/panen, di karamba jaring apung 1.000 kg/unit (50 m2)/panen (200.000 kg/ha/panen), dan di tambak sebanyak 15.000 kg/ha/panen.

            Ada segi positif dari budidaya ikan nila di tambak yaitu pertumbuhannya lebih cepatdibandingkan di kolam atau di jaring apung.  Ikan nila ukuran 5-8 cm yang dibudidayakan di tambak selam 2,5 bulan dapat mencapai 200 g, sedangkan di kolam untuk mencapai ukuran yang sama diperlukan waktu 4 bulan.

            Tekstur daging ikan nila memiliki ciri tidak ada duri kecil dalam dagingnya.  Apabila dipelihara di tambak akan lebih kenyal, dan rasanya lebih gurih, serta tidak berbau lumpur.  Oleh kerena itu, ikan nila layak untuk digunakan sebagai bahan baku dalam industri fillet dan bentuk-bentuk olahan lain.

A.          Pembenihan

             Lahan atau kolam untuk pembenihan nila dibagi dalam dua kelompok yaitu kolam pemijahan dan kolam pendederan.  Kolam-kolam sebaiknya dibuat dengan pematang yang kuat , tidak porous ( rembes ), ketinggian pematang aman ( minimal 30 cm dari permukaan air ), sumber pemasukan air yang terjamin kelancarannya, dan luas kolam masing - masing 200 m2.  Di samping itu perlu di perhatikan juga keamanan dari hama pemangsa ikan seperti anjing air, burung hantu, kucing  dan lain-lain, sehingga dianjurkan agar agar lingkungan perkolaman babas dari pohon pohon yang tinggi dan rindang, sementara sinar matahari pun dapat masuk ke dalam kolam.

            Induk ikan nila mempunyai bobot rata-rata 300 g/ekor.  perbandingan betina dan jantan untuk pemijahan adalah 3:1 dengan padat tebar 3 ekor /m2.  Pemberian pakan berbentuk pellet sebanyak 2% dari bobot biomassa per hari dan diberikan tiga kali dalam sehari.  Induk ikan ini sebaiknya didatangkan dari instansi resmi yang melakukan seleksi dan pemuliaan calon induk diantaranya Balai Penelitian Perikanan Air Tawar Sukamandi, sehingga kualitas kemurnian dan keunggulannya terjamin.

            Induk nila betina dapat matang telur setiap 45 hari.  Setiap induk betina menghasilkan larva ( benih baru menetas ) pada tahap awal sekitar 300 g sebanyak 250-300 ekor larva.  Jumlah ini akan meningkat sampai mencapai 900 ekor larva sesuai dengan pertambahan bobot induk betina ( 900 g ).  Setelah selesai masa pemijahan dalam satu siklus ( 45 hari ), induk-induk betina diistirahatkan dan dipisahkan dari induk jantan selama 3-4 minggu dan diberi pakan dengan kandungan protein diatas 35 %.

            Setelah dua minggu masa pemeliharaan adaptasidi kolambiasanya induk-induk betina mulai ada yang beranak, menghasikan larva yang biasanya masih berada dalam pengasuhan induknya.  Larva -larva tersebut dikumpulkan denga cara diserok memakai serokan yang terbuat dari kain halus dan selanjutnya ditampung dalam happa ukuran 2 x 0,9 x 0,9 m3.  Pengumpulan larva dilakukan beberapa kali dari pagi sampai sore, dan duusahakan larva yang terkumpul satu hari ditampung minimal dalam satu happa.

 B.          Jantanisasi Benih.

            Untuk mendapatkan benih ikan nila tunggal kelamin jantan ( monoseks ) maka dilakukan proses jantanisasi.  Untuk keperluan ini diperlukan minimal 24 buah happa ukuran masing-masing 2 x 2 x 2 m3 yang ditempatkan dalam kolam dengan luas kurang lebih 400 m2 dan kedalam air minimal 1,5 m.  Kedalam setiap hapa dapat diisi larva ikan sebanyak 20.000-30.000 ekor .  Larva diberi pakan berbentuk tepung yang telah dicampur dengan hormon 17 Alpha Methyl Testosteron sampai masa masa pemeliharaan selama 17 hari.

 Larva hasil proses jantanisasi selanjutnya dipelihara dalam kolam pendederan berukuran 200 m2.  Kolam sebelumnya harus dikeringkan, lumpurnya dikeduk, diberi kapur sebanyak 50 g/m2, dan diberi pupuk kotoran ayam sebanyak 250 g/m2.  Setelah pengapuran dan pemupukan, kolam diisi secara perlahan-lahan sampai ketinggian air sekitar 70 cm, digenangi selama 3 hari, diberi pupuk urea dan TSP masing -masing sebanyak 2,5 g/m2 dan 1,25 g/m2.  Setelah kolam pendederan terisi air selam 7 hari, benih ikan hasil proses jantanisasi dimasukkan dengan kepadatan 250 ekor/m2.  Pemberian pakan tambahan dapat dilakukan dengan pakan berbentuk tepung yang khusus untuk benih ikan.  Pemupukan ulang dengan urea dan dan TSP dilakukan seminggu sekali dengan takaran masing-masing 2,5 g/m2 dan 1,25 g/m2 kolam dan diberikan selama pemeliharaan ikan.

            Setelah masa pemeliharaan 21 hari, ikan denga bobot rata-rata 1,25 g ( ukuran panjang 3-5 cm ) bisa dipanen.  Untuk panen benih ikan nila sebaiknya digunakan jaring eret pada pengankapan awal.  Bila jumlah ikan dalam kolam diperkirakan tinggal sedikit baru dilakukan pengeringan airnya.

            Ikan mempunyai daya tahan yang baik selama diangkut apabila perutnya dalam keadaan kosong dan suhu air media relatif dingin.  Karena itu apabila akan panen dan diangkut sebaiknya ikan tidak diberi makan minimal 1 hari.  Pengangkutan menggunakan kantong plastik, dimana seper empat bagian berisi air dan tiga per empat bagian berisi oksigen murni yang diberi es balok ukuran 20 x 20 x 20 cm3 ( es balok berada dalam media air bersama benih ikan ).  Kantong plastik dengan volume 20 L bisa diisi ikan ukuran 5 cm maksimal 1.500 ekor/kantong, dengan lama masa toleransi dalam kantong sekitar 10 jam.

C.          Pembesaran di Tambak

            Usaha pembesaran ikan nila di tambak dengan sistem monokultur, mempunyai sasaran produksi untuk pasar domestik maupun ekspor.

            Untuk pembesaran nila di tambak, yang pertama dilakukan adalah tambak diperbaiki pematangnya, saluran air dan pintu-pintu airnya.  Lumpur dasar tambak diangkat, selanjutnya tambak dikeringkan, sehingga semua hama ikan yang suka mengganggu bisa musnah.  Pengapuran dilakukan dengan takaran 50 g/m2 dan pemupukan dengan pupuk kandang sebanyak 250 g/m2.  Kemudian tambak diisi air sampai ketinggian 70 cm, setelah tiga hari dilakukan pemupukan dengan urea dan TSP dengan takaran masing-masing 2,5 g/m2 dan 1,25 g/m2.  Pada awal pengisian air diusahakan kadar garamnya sekitar 5 ppt dan selanjutnya bisa dinaikan selam masa pemeliharaan sampai 15 ppt.

            Benih yang ditebar sebaiknya berukuran + 1,25 g ( panjang 3-5 cm ) dengan ukuran yang seragam dan sehat ditandai dengan warna cerah, gerakan yang gesit dan responsif terhadap pakan.  Untuk target panen ukuran rata-rata 15 g/ekor (+ 1 bulan ), padat penebaran sebanyak 20 ekor/m2.  Sedangkan untuk terget panen ukuran 500 g/ekor (+ 6 bulan pemeliharaan), padat penebaran sebanyak 4 ekor/m2.

            Selama masa pemeliharaan ini ikan diberi pakan tambahan berbentuk pelet sebanyak 3%-5% per hari dari biomassa, dan diberikan dengan frekuensi tiga kali sehari, pakan tersebut harus berkualitas dengan komposisi protein minimal 25% ( Lampiran 2 ).

            Pada awal pemeliharaan, ketinggian air dipertahankan minimal 70 cm, dan bila masa pemeliharaan telah telah mencapai dua bulan ketinggian air dinaikan, sehingga menjelang pemeliharaan empat bulan ketinggian diusahakan mencapai 1,5 m.

            Pemupukan ulang dengan pupuk kandang dilakukan dua bulan sekali dengan takaran 250 g/m2, sedangkan pemupukan ulang urea dan TSP dilakukan setiap minggu dengan takaran masing-masing 2,5 g/m2 dan 1,25 g/m2 selama masa pemeliharaan.

            Dengan target produksi ukuran 500 g atau lebih per ekor terutama diperlukan untuk produksi fillet, maka masa pemeliharaan adalah sekitar enam bulan.  Pemanenan dilakukan dengan cara disusur dari ujung menggunakan jaring seser.  Bila dirasakan populasi ikan dalam tambak sudah tinggal sedikit, baru air tambak dikeringkan.  Diusahakan ikan hasil tangkapan harus dalam keadaan segar dan prima.  Selainitu, untuk pasar ekspor komoditas nila ini diperlukan penanganan yang lebih hati-hati terutama sekali dari aspek higienis dan penampilan produk.

            Untuk keperluan konsumsi lokal umumnya ikan dengan ukuran rata-rata 200 g/m2 sudah dapat dipasarkan dalam keadaan segar.  Dalam proses penyimpanan, pengankutan dan pemasaran dapat menggunakan es sebagai media untuk mempertahankan kesegaran ikan.

Perawatan Burung Puyuh 1 - 14 Hari

Written By restubfc on Friday, September 13, 2013 | 3:30 AM


Perawatan Burung Puyuh 1-14 Hari

PERAWATAN BURUNG PUYUH UMUR 1 HARI :
·   Berikan pemanas tambahan atau lampu sehingga suhu ruangan tidak jauh beda dengan suhu mesin tetas yaitu sekitar 35 - 36 derajat Celcius
·      Taburkan makanan BR - 1 atau 511 yang ditumbuk atau di haluskan.
·       Berikan air minum yang dicampur dengan vitamin dan antibiotik, karena anak puyuh ini masih sangat kecil maka berikan batu-batu kecil pada tempat minum agar anak-anak puyuh ini tidak tenggelam.

PERAWATAN BURUNG PUYUH UMUR 2 HARI:
·         Berikan pemanas tambahan atau lampu sehingga suhu ruangan sekitar 30 - 31 derajat Celcius
·         Taburkan makanan BR - 1 atau 511 yang ditumbuk atau di haluskan.
·      Berikan air minum yang dicampur dengan vitamin dan antibiotik, pada umur 2 hari batu-batu kecil pada tempat minum sudah bisa di buang atau dikurangi

PERAWATAN BURUNG PUYUH UMUR 3 HARI:
·         Berikan pemanas tambahan atau lampu sehingga suhu ruangan sekitar 28 - 30 derajat Celcius
·         Taburkan makanan BR - 1 atau 511 yang ditumbuk atau di haluskan.
·      Berikan air minum yang dicampur dengan vitamin dan antibiotik, pada umur 3 hari batu-batu kecil pada tempat minum sudah bisa di buang semuanya

PERAWATAN BURUNG PUYUH UMUR 4 HARI:
·        Berikan pemanas tambahan atau lampu sehingga suhu ruangan sekitar 27 - 28 derajat Celcius
·    Mulai berikan makanan BR - 1 atau 511 yang ditumbuk atau di haluskan mulai ditaruh di tempat pakan
·      Berikan air minum Biasa tanpa diberi vitamin atau antibiotik, pada umur 4 hari batu-batu kecil pada tempat minum sudah bisa di buang semuanya

PERAWATAN BURUNG PUYUH UMUR 5 HARI:
·        Berikan pemanas tambahan atau lampu sehingga suhu ruangan sekitar 27 - 28 derajat Celcius
·    Mulai berikan makanan BR - 1 atau 511 yang ditumbuk atau di haluskan mulai ditaruh di tempat pakan
·       Berikan air minum Biasa tanpa diberi vitamin atau antibiotik

PERAWATAN BURUNG PUYUH UMUR 6 HARI:
·        Berikan pemanas tambahan atau lampu sehingga suhu ruangan sekitar 24 - 25 derajat Celcius
·    Mulai berikan makanan BR - 1 atau 511 yang ditumbuk atau di haluskan mulai ditaruh di tempat pakan
·        Berikan air minum dengan diberi vitamin atau antibiotik

PERAWATAN BURUNG PUYUH UMUR 7 HARI:
·         Berikan pemanas tambahan atau lampu sehingga suhu ruangan sekitar 24 - 25 derajat Celcius
·         Mulai berikan makanan BR - 1 atau 511 sudah tidak perlu dihaluskan mulai ditaruh di tempat pakan
·         Berikan air minum dengan diberi vitamin atau antibiotik

PERAWATAN BURUNG PUYUH UMUR 8 HARI:
·         Berikan pemanas tambahan atau lampu sehingga suhu ruangan sekitar 24 - 25 derajat Celcius
·         Mulai berikan makanan BR - 1 atau 511 sudah tidak perlu dihaluskan mulai ditaruh di tempat pakan
·         Berikan air minum dengan diberi vitamin atau antibiotik

PERAWATAN BURUNG PUYUH UMUR 9 HARI:
·         Berikan pemanas tambahan atau lampu hanya pada malam hari
·         Mulai berikan makanan BR - 1 atau 511 sudah tidak perlu dihaluskan mulai ditaruh di tempat pakan
·         Berikan air minum dengan diberi vitamin atau antibiotik

PERAWATAN BURUNG PUYUH UMUR 10 HARI:
·    Mulai umur 10 hari burung puyuh sudah bisa di pindah kekandang untuk puyuh dewasa.
·   Pakan masih tetap menggunakan 511, atau bisa juga diganti dengan pakan grower untuk ayam petelur.
·   Berikan air minum dengan air biasa.

PERAWATAN BURUNG PUYUH UMUR 11 HARI:
·        Umur 11 hari burung puyuh sudah bisa di pindah kekandang untuk puyuh dewasa malam masih bisa dibantu dengan lampu penerang
·    Pakan masih tetap menggunakan 511, atau bisa juga diganti dengan pakan grower untuk ayam  petelur.
·         Berikan air minum dengan air biasa

PERAWATAN BURUNG PUYUH UMUR 12 HARI:
·        Umur 12 hari burung puyuh sudah bisa di pindah kekandang untuk puyuh dewasa malam masih bisa dibantu dengan lampu penerang
·    Pakan masih tetap menggunakan 511, atau bisa juga diganti dengan pakan grower untuk ayam  petelur.
·         Berikan air minum dengan air biasa

PERAWATAN BURUNG PUYUH UMUR 13 HARI:
·         Umur 13 hari burung puyuh sudah bisa di pindah kekandang untuk puyuh dewasa malam masih bisa dibantu dengan lampu penerang
·    Pakan masih tetap menggunakan 511, atau bisa juga diganti dengan pakan grower untuk ayam  petelur.
·         Berikan air minum dengan air biasa

PERAWATAN UMUR 14 HARI DAN SETERUSNYA
·      Sama saja dengan perawatan hari ke 13, hanya saja jumlah pakan yang diberikan semakin bertambah. Sampai puyuh umur 30 hari masih diberikan pakan 511 atau BR-1 selanjutnya bisa diberikan pakan puyuh petelur PP3 atau lainya. Untuk menhemat biaya pakan, Pakan puyuh petelur pabrik bisa dicampur 20 kg katul separator setiap 100 kg.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. restubfc.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger